| Senin, 11 April 2011 14:33 |
| KARANGPLOSO – Jika selama ini paket bom buku sudah menghebohkan masyarakat, tidak demikian yang kemarin terjadi di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso. Warga setempat justru digemparkan dengan temuan sebuah granat tangan jenis Grenade Hand Frak Delay K-75 warna hijau lumut. Granat berbentuk buah nanas diameter 5,5 sentimeter dan tinggi 7,5 sentimeter itu ditemukan di tempat sampah oleh Karno, seorang pemulung desa setempat. Karno menemukan granat tersebut saat sedang mencari barang bekas. Karena takut benda itu bakal meledak, granat bernomor seri 2-79 Comp.B Lot EC-1-04 dengan berat 300 gram itu, langsung dilaporkan Karno ke warga sekitar yang kemudian diteruskan melapor ke petugas Polsek Karangploso. Begitu mendapat laporan, petugas bergegas ke lokasi untuk mengamankan granat tersebut. “Granat itu kami amankan di Polsek Karangploso. Saat ditemukan, benda itu berada di dalam kotak bekal makanan anak sekolah,” ungkap Kapolsek Karangploso, AKP Sugeng Hardianto, mendampingi Kapolres Malang, AKBP Rinto Djatmono. Dari hasil penyelidikan, menurut mantan Kaureg Ident Polres Malang Kota ini, granat tersebut sudah tidak aktif dan tidak berisi. “Bendanya memang sebuah granat. Namun, sudah tidak aktif dan berbahaya. Bahkan, granat itu sudah dimodifikasi menjadi korek api,” ujar Sugeng. Ooo…. Ternyata korek api berbentuk granat !(agp/eno) |
Selasa, 12 April 2011
Granat dalam Kotak Bekal
Minggu, 10 April 2011
Perbaikan Jalan Karangploso Dialokasikan Rp 20 M
| Kamis, 07 April 2011 14:02 |
| KARANGPLOSO- Dinas Bina Marga baru mampu mengalokasikan 70 persen anggaran untuk perbaikan jalan di Kabupaten Malang. Tahun ini, sejumlah desa dan kecamatan yang mengalami rusak parah akan mendapat prioritas pemeliharaan. Beberapa yang akan dibangun diantaranya jalan di Ngenep-Kepuharjo Kecamatan Karangploso, serta kawasan Ampeldento Kecamatan Pakis. Sekretaris Dinas Bina Marga Pemkab Malang, Agus Prajitno mengatakan, Pemkab hanya mampu mencover dana 70 persen. Bila dihitung, anggaran untuk pemeliharaan jalan di Kabupaten Malang tahun ini hanya Rp 20 miliar. Tahun ini, Pemkab tak mendapat DAK sehingga murni dibiayai dengan APBD. “Yang harus kita luruskan adalah persepsi bahwa dana itu bisa dicover seluruhnya oleh Pemkab Malang,” kata mantan Kabid Teknik Dinas Bina Marga Pemkab Malang. Kepala Dinas Bina Marga, M. Anwar mengatakan, bahwa jalan di Kabupaten Malang sudah mengalami peningkatan. Yakni dari 1.273,70 km atau 76,4 persen tahun 2009, menjadi 1.314 km atau 78,8 persen pada tahun 2010. Begitu pula halnya dengan jumlah jembatan yang sesuai standar (lebar 6 m) dari 68 buah atau 17,2 persen menjadi 77 buah atau 19,5 persen. “Total jembatan kabupaten yang ada sebanyak 3.958 buah. Untuk program kemitraan, Dana kemitraan dari swadaya masyarkat mencapai Rp 86 miliar lebih, sedangkan dari APBD sebesar Rp 43 miliar,” ujarnya. Mengenai permintaan dari dua Desa di Kecamatan Karangploso yakni Desa Ngenep dan Kepuharjo mengajukan pelebaran jalan dan jembatan, Anwar membenarkan. Kata dia, tahun ini permintaan itu akan segera dinaikkan ke tahap perencanaan. Mengenai detail dan model jembatan akan dibahas lebih lanjut. “Kalau untuk pelebaran jalan ke Singosari kita lihat dulu bagaimana pendapat masyarakat disana, kalau mau ya tentu harus ada partisipasi masyarakat,” tambah Anwar. Mengenai kerusakan akses jalan menuju Bandar Udara Abdurahman Saleh via Jalan Raya Ampeldento, itu juga akan mendapat perhatian. Di Ampeldeonto, warga yang berharap pembangunan memasang gambar pocong serta pisang di tengah jalan. Jalur yang rusak itu berada di Jalan Bunut Kidul hingga Jalan raya AMpeldento di wilayah Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. “Itu masuk dalam perhatian kami karena kalau rusak menganggu akses ke bandara juga,” tegas Anwar. Dia menambahkan, pada Juni mendatang, diharapkan warga Kota Malang dan Kabupaten Malang segera menikmati perbaikan. Jalur-jalur penting seperti jalan menuju bandara memang sudah diprogramkan. “Tinggal menunggu waktu, karena masih dalam proses perencanaan, paling cepat bulan enam nanti lah,” imbuhnya. (ary/udi) |
Kamis, 07 April 2011
Jalan Perbatasan Diserahkan ke Provinsi
| Selasa, 05 April 2011 15:22 |
| MALANG– Jalan Donowarih Karangploso hingga perbatasan Kota Batu akan diserahkan Pemkab Malang ke Pemprov Jatim. Pemkab Malang sudah melayangkan surat permohonan penyerahan itu kepada Pemprov Jatim beberapa waktu lalu. Hanya saja, hingga kini belum ada kejelasan penerimannya dari Pemprov Jatim. Hal itu terungkap dalam penyerapan aspirasi masyarakat yang digelar Ketua FPKB DPRD Jawa Timur, H. Zaini Nashiruddin di Kecamatan Karangploso bersama masyarakat dan pengurus NU se Kecamatan Karangploso, kemarin. Anggota dewan asal daerah pemilihan Malang raya itu sudah mengetahui rencana yang akan dilakukan Pemkab Malang itu. Sebagai wakil rakyat Malang raya, termasuk Kabupaten Malang dia akan mengawal permohonan Pemkab kepada Pemprov agar dapat terealisasi seperti yang diharapkan. “Jalan yang akan diserahkan Pemkab ke Pemprov panjangnya sekitar 2 kilometer lebih. Pemkab berharap jalan itu menjadi jalan provinsi yang perawatan dan perbaikannya nanti akan dilakukan Pemprov Jatim,” kata Zaini kepada Malang Post, kemarin. Dia akan mengawal langsung kepada Pemprov Jatim. Mengingat tugas dia di Komisi D DPRD Jatim mengurusi bidang pembangunan. Baginya tidak ada permasalahan, jika jalan yang menghubungkan antara dua daerah itu menjadi bagian jalan yang dikelola Pemprov Jatim. Beban perawatan jalan di Kabupaten Malang sudah cukup tinggi, akibatnya banyak jalan yang tidak tertangani dengan baik. Panjang jalan di Kabupaten Malang mencapai 1.314 kilometer. Jumlah itu bertambah dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.273 kilometer. Kalau jalan Karangploso-Batu menjadi jalan provinsi, beban perawatan jalan Pemkab Malang akan semakin terkurangi. “Beban perawatan jalan yang ditangani Pemprov Jatim juga tinggi. Dari jumlah panjang jalan dengan biaya perawatan yang dianggarkan tidak sebanding karena keterbatasan anggaran yang dimiliki daerah,” ungkapnya. Karenanya, Jalan Karangploso-Batu itu akan menjadi jalan alternative menuju Kota Batu. Pemkot Batu sudah melakukan pelebaran jalan dan membangun jembatan Kali Lanang untuk semakin membuka akses jalan menuju kota pariwisata itu. “Kalau semua akses terbuka dan Batu memiliki akses jalan alternative akan semakin mempercepat pertumbuhan perekonomiannya,” tambah politisi PKB ini. (aim/udi) |
Senin, 28 Maret 2011
Cinta Lama Berbuah Petaka
| Minggu, 27 Maret 2011 17:54 |
| Akibat pengeroyokan itu, Atim yang sempat dirawat di RS Ben Mari, harus dirujuk ke RSSA Malang. Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman mengungkapkan, pihaknya menangkap Imam saat memacul di sawah dan Suprianto, 39 tahun, tetangga Imam di rumahnya. “Satu pelaku inisial ASR masih diburu karena kabur,” ungkapnya. Menurut dia, pengeroyokan terhadap Atim ini memang buntut dari kekesalan Imam yang seringkali mendapat informasi dari beberapa tetangganya, yang melihat Nur janjian dengan Atim di kebun tebu Desa Wadung. “Korban merupakan pacar Nur saat SMA. Dia sempat bekerja keluar pulau. Ketika kembali ke Malang, ternyata pacarnya ini sudah menikah dengan tersangka Imam. Meski demikian, tidak menyurutkan Atim untuk menggoda Nur ketika Imam pergi ke sawah,” urai perwira tersebut. Kebetulan, Imam mendengar istrinya janjian bertemu dengan Atim di tempat biasanya kemarin. Dia lantas mengajak Suprianto dan ASR untuk menggerebek lokasi pertemuan tersebut. Begitu bertemu, tanpa banyak kata, Imam dan dua tetangganya ini menghajar Atim dengan balok kayu ataupun tanaman tebu hingga sekarat. Setelah puas melampiaskan amarahnya, ketiga tersangka dan Nur meninggalkan korban seorang diri. “Saya mengetahui kejadian itu setelah mendapat SMS dari salah seorang warga. Kami langsung meluncur ke TKP dan membawa korban ke rumah sakit,” ujar Ni Nyoman. Ketika diperiksa, Imam mengaku tidak menyesali perbuatannya telah menghajar Atim. “Saya hanya ingin istri saya tahu bahwa perbuatannya berduaan di tengah ladang tebu dengan lawan jenis itu salah dan melanggar kesusilaan. Namun, karena saya kalap melihat istri berduaan, saya pakai cara yang salah dengan menganiaya. Tapi, mau tidak mau sekarang saya harus betanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan,” katanya dengan sedikit tertunduk. (mg2/mar) |
Singosari dan Karangploso Diterjang Putting Beliung
KARANGPLOSO - Setelah Kecamatan Wajak dan Dampit diserang putting beliung beberapa waktu lalu, kemarin siang giliran Kecamatan Singosari dan Karangploso menjadi sasaran putting beliung. Dari dua kecamatan itu, wilayah Karangploso yang mengalami kerusakan paling parah.
Dua titik putting beliung di Dusun Glugur Desa Ngenep dan Desa Girimoyo, kerusakan terparah dialami Dusun Glugur atau wilayah paling Utara Karangploso. Sedikitnya 16 rumah warga di RT01 RW14, mengalami kerusakan pada bagian atap yang rata-rata dari genting.
Namun, kerusakan terparah menimpa dua rumah masing-masing milik Paisah 70 tahun dan Rain 40 tahun, yang keduanya bertetangga. Rumah milik Paisah misalnya, dapur semi permanen yang berukuran sekitar 4 meter X 5 meter, ambruk dihantam putting beliung.
“Saya waktu itu sedang masak di dapur untuk syukuran setahun meninggalnya kakak saya, Satini. Tiba-tiba saja, saat hujan deras dan angin bangunan langsung, bruk dan menimpa saya. Beruntung, saya masih bisa selamat dan langsung memadamkan api serta menyelamatkan LPG,” kata Sriwilujwng, anak Paisah kemarin..
Sementara di rumah Rain, angin menghempaskan seluruh genting bangunan yang berukuran sekitar 6 meter X 12 meter. Bahkan, saat angin menghempaskan genting rumahnya, korban yang tinggal bersama istri dan anaknya, harus menyelamatkan diri dengan keluar dari rumah.
“Sebelum menerjang genting rumah, angin sempat berputar-putar di Utara rumah saya yang persawahan. Makanya, begitu tahu angina mengarahkan ke sini, kami pun langsung menyelamatkan diri keluar rumah,” kata Rain.
Akibat kejadian itu, seisi rumahnya pun basah. Masalahnya, air hujan yang masih sesekali mengguyur lokasi, langsung masuk ke dalam rumahnya yang menyisakan pelindung asbes alias langit-langit. Dengan dibantu warga, bagian atap pun diberi alas plastickuntuk mengantisipasi air masuk ke dalam rumah.
“Kalau kerugiannya, mungkin mencapai Rp 5 Juta,” imbuhnya.
Sementara kerusakan lainnya di Girimoyo, sedikitnya 34 rumah hanya mengalami kerusakan ringan. Yakni, bagian atap alias genting lepas akibat terkena putting beliung.(sit/pit/eno)
Dua titik putting beliung di Dusun Glugur Desa Ngenep dan Desa Girimoyo, kerusakan terparah dialami Dusun Glugur atau wilayah paling Utara Karangploso. Sedikitnya 16 rumah warga di RT01 RW14, mengalami kerusakan pada bagian atap yang rata-rata dari genting.
Namun, kerusakan terparah menimpa dua rumah masing-masing milik Paisah 70 tahun dan Rain 40 tahun, yang keduanya bertetangga. Rumah milik Paisah misalnya, dapur semi permanen yang berukuran sekitar 4 meter X 5 meter, ambruk dihantam putting beliung.
“Saya waktu itu sedang masak di dapur untuk syukuran setahun meninggalnya kakak saya, Satini. Tiba-tiba saja, saat hujan deras dan angin bangunan langsung, bruk dan menimpa saya. Beruntung, saya masih bisa selamat dan langsung memadamkan api serta menyelamatkan LPG,” kata Sriwilujwng, anak Paisah kemarin..
Sementara di rumah Rain, angin menghempaskan seluruh genting bangunan yang berukuran sekitar 6 meter X 12 meter. Bahkan, saat angin menghempaskan genting rumahnya, korban yang tinggal bersama istri dan anaknya, harus menyelamatkan diri dengan keluar dari rumah.
“Sebelum menerjang genting rumah, angin sempat berputar-putar di Utara rumah saya yang persawahan. Makanya, begitu tahu angina mengarahkan ke sini, kami pun langsung menyelamatkan diri keluar rumah,” kata Rain.
Akibat kejadian itu, seisi rumahnya pun basah. Masalahnya, air hujan yang masih sesekali mengguyur lokasi, langsung masuk ke dalam rumahnya yang menyisakan pelindung asbes alias langit-langit. Dengan dibantu warga, bagian atap pun diberi alas plastickuntuk mengantisipasi air masuk ke dalam rumah.
“Kalau kerugiannya, mungkin mencapai Rp 5 Juta,” imbuhnya.
Sementara kerusakan lainnya di Girimoyo, sedikitnya 34 rumah hanya mengalami kerusakan ringan. Yakni, bagian atap alias genting lepas akibat terkena putting beliung.(sit/pit/eno)
Duh Gusti.. Guru Ngaji Cabuli Lima Santri
Pelecehan Seksual Berkedok Agama
Sabtu, 26 Maret 2011 16:40:38 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Malang (beritajatim.com) - Entah setan apa yang terlintas dibenak M Rois (54) saat mencabuli dan menggagahi kelima santri ngajinya. Rois yang sehari-harinya dikenal sebagai guru ngaji itu, kini harus mendekam di tahanan Mapolres Malang, Sabtu (26/3/2011) siang.
Terus menundukkan wajahnya, bapak dua anak yang tinggal di Desa Tumpuk Renteng RT10/RW3, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang seakan menyesali perbuatannya. Dengan nada lirih, ia pun berucap, “Saya menyesal telah melakukan perbuatan itu,” kata Rois saat ditemui di ruang penyidikan Polres Malang siang ini.
Sementara itu, data yang dihimpun beritajatim.com menyebutkan, Rois ditangkap hari ini setelah orang tua santriwati yang menjadi korban perbuatan amoralnya, melaporkan ke Polisi. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, kasus Rois kini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.
Menurut Rois, sehari-hari, pekerjannya hanyalah buruh tani. Di sela-sela kesibukannya itulah, Rois masih meluangkan waktunya untuk mendidik anak-anak di kampungnya untuk mengaji. Sebagai guru ngaji, Rois tidak sendirian. Ia dibantu anak dan istrinya. Sedang aktivitas memberikan pelajaran mengaji itu, dilakukan Rois di sebuah Mushola yang ada di samping rumahnya.
Rois menuturkan, sebagai pria yang pernah mengenyam dunia Pondok Pesantren, belajar ngaji Iqro dan Al-Quran pun mencoba ia tularkan pada anak-anak putri maupun putra di lingkungan tempat tinggalnya. Namun yang membuat warga kampung tercengang, Rois ternyata memiliki perangai yang jauh dari norma agama.
“Saya khilaf mas. Saya menyesal telah melakukan perbuatan itu,” ucap Rois sambil menundukkan kepala.
Diceritakan Rois kembali, sesuai yang dia ingat, bukanlah tujuh orang santri putri yang dia cabuli. Melainkan, hanya lima kali saja. Itupun, untuk dua korban putri yang ada diberkas pemeriksaan dirinya, hanya dicabuli saja tanpa memasukkan alat kemaluannya.
“Saya melakukan itu bukan tujuh kali mas. Namun hanya lima kali saja,” terang bapak dua orang anak itu.
Ditambahkan Rois, tiga kali perbuatannya pada santriwati yang ikut belajar ngaji di rumahnya, ia gerayangi dengan memasukkan jari tangan pada kemaluan tiga korbannya. Karena terangsang, Rois akhirnya coba memasukkan alat kemaluannya pada organ intim ketiga korban tersebut.
Sedangkan untuk dua korban lainnya, Rois hanya mengaku menggerayanginya saja. Sedangkan satu santri ngaji yang ditudingkan warga dan orangtua korban hamil akibat perbuatannya, hal itu dibantah oleh Rois. “Kalau korban yang hamil itu, saya tidak tahu mas. Saya cuma memasukkan jari saja. Saat ini, korban yang hamil itu sudah dinikahkan sama orang tuanya,” papar Rois.
Tertangkapnya Rois bermula dari laporan orang tua Nilam (bukan nama sebenarnya). Nilam adalah santri ngaji Rois pada tahun 2010 lalu. Saat ini, Nilam hamil tujuh bulan. Saat kejadian, usia Nilam masih di bawah 17 tahun. Tak terima perlakukan amoral Rois, orang tua Nilam akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polisi.
Menurut Rois, sehari-hari, pekerjannya hanyalah buruh tani. Di sela-sela kesibukannya itulah, Rois masih meluangkan waktunya untuk mendidik anak-anak di kampungnya untuk mengaji. Sebagai guru ngaji, Rois tidak sendirian. Ia dibantu anak dan istrinya. Sedang aktivitas memberikan pelajaran mengaji itu, dilakukan Rois di sebuah Mushola yang ada di samping rumahnya.
Rois menuturkan, sebagai pria yang pernah mengenyam dunia Pondok Pesantren, belajar ngaji Iqro dan Al-Quran pun mencoba ia tularkan pada anak-anak putri maupun putra di lingkungan tempat tinggalnya. Namun yang membuat warga kampung tercengang, Rois ternyata memiliki perangai yang jauh dari norma agama.
“Saya khilaf mas. Saya menyesal telah melakukan perbuatan itu,” ucap Rois sambil menundukkan kepala.
Diceritakan Rois kembali, sesuai yang dia ingat, bukanlah tujuh orang santri putri yang dia cabuli. Melainkan, hanya lima kali saja. Itupun, untuk dua korban putri yang ada diberkas pemeriksaan dirinya, hanya dicabuli saja tanpa memasukkan alat kemaluannya.
“Saya melakukan itu bukan tujuh kali mas. Namun hanya lima kali saja,” terang bapak dua orang anak itu.
Ditambahkan Rois, tiga kali perbuatannya pada santriwati yang ikut belajar ngaji di rumahnya, ia gerayangi dengan memasukkan jari tangan pada kemaluan tiga korbannya. Karena terangsang, Rois akhirnya coba memasukkan alat kemaluannya pada organ intim ketiga korban tersebut.
Sedangkan untuk dua korban lainnya, Rois hanya mengaku menggerayanginya saja. Sedangkan satu santri ngaji yang ditudingkan warga dan orangtua korban hamil akibat perbuatannya, hal itu dibantah oleh Rois. “Kalau korban yang hamil itu, saya tidak tahu mas. Saya cuma memasukkan jari saja. Saat ini, korban yang hamil itu sudah dinikahkan sama orang tuanya,” papar Rois.
Tertangkapnya Rois bermula dari laporan orang tua Nilam (bukan nama sebenarnya). Nilam adalah santri ngaji Rois pada tahun 2010 lalu. Saat ini, Nilam hamil tujuh bulan. Saat kejadian, usia Nilam masih di bawah 17 tahun. Tak terima perlakukan amoral Rois, orang tua Nilam akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polisi.
Dari sinilah semuanya terbongkar. Dengan sangat menyesal, Rois pun mengakui jika lima santri ngajinya, ia cabuli tanpa sepengetahuan istri dan anaknya yang ikut memberikan pelajaran mengaji.
Menanggapi pengakuan Rois yang hanya melakukan pencabulan lima kali dan bukan tujuh kali, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang, AKP Hartoyo SIK mengatakan, lima orang santri ngaji itu yang sudah diperiksa. Sedangkan dua korban lainnya, memang belum diminta keterangan dan diperiksa.
“Dari hasil pemeriksaan korban dan para saksi, ada tujuh santri putri yang menjadi korbannya. Sejauh ini, penyidikan dan pemeriksaan kasus ini memang belum tuntas seluruhnya. Bisa saja ada korban lainnya,” tegasnya. [yog/but]
Menanggapi pengakuan Rois yang hanya melakukan pencabulan lima kali dan bukan tujuh kali, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang, AKP Hartoyo SIK mengatakan, lima orang santri ngaji itu yang sudah diperiksa. Sedangkan dua korban lainnya, memang belum diminta keterangan dan diperiksa.
“Dari hasil pemeriksaan korban dan para saksi, ada tujuh santri putri yang menjadi korbannya. Sejauh ini, penyidikan dan pemeriksaan kasus ini memang belum tuntas seluruhnya. Bisa saja ada korban lainnya,” tegasnya. [yog/but]
Guru Ngaji Di Malang Cabuli Lima Santri Benarkah ?
uru Ngaji Di Malang Cabuli Lima Santri Benarkah ? “Dari hasil pemeriksaan korban dan para saksi, ada tujuh santri putri yang menjadi korbannya. Sejauh ini, penyidikan dan pemeriksaan kasus ini memang belum tuntas seluruhnya. Bisa saja ada korban lainnya,” tegasnya.
Malang – Seorang guru mengaji M Rois (54), nekat mencabuli muridnya sendiri yang masih berusia dibawah 17 tahun.
Entah pikiran apa yang merasuk dalam benaknya, pria paruh baya ini dengan bejatnya mencabuli lima murid mengajinya.
Bapak dua anak yang tinggal di Desa Tumpuk Renteng RT10/RW3, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, terlihat menyesali perbuatannya saat dibekuk apart polisi.
Dengan nada lirih, ia pun berucap, “Saya menyesal telah melakukan perbuatan itu,” Sabtu (26/3/2011).
Sementara itu, data yang dihimpun wartawan menyebutkan, Rois ditangkap setelah orang tua Santriwati, salah satu urid Rois, yang menjadi korban perbuatan amoralnya, melaporkan ke Polisi.
Kasus ini segera ditindaklanjuti dan kini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.
Menurut Rois, sehari-hari, pekerjannya hanyalah buruh tani. Di sela-sela kesibukannya itulah, Rois masih meluangkan waktunya untuk mendidik anak-anak di kampungnya belajar mengaji.
Sebagai guru mengaji, Rois tidak sendirian, ia dibantu anak dan istrinya. Sedang aktivitas memberikan pelajaran mengaji itu, dilakukan Rois di sebuah Mushola yang ada di samping rumahnya.
Rois menuturkan, sebagai pria yang pernah mengenyam dunia Pondok Pesantren, belajar mengaji Iqro dan Al-Quran pun ia tularkan pada anak-anak putri maupun putra di lingkungan tempat tinggalnya.
Namun yang membuat warga kampung tercengang, saat megnetahui Rois ternyata memiliki perangai yang jauh dari norma agama.
“Saya khilaf mas. Saya menyesal telah melakukan perbuatan itu,” ucap Rois sambil menundukkan kepala.
Diceritakan Rois kembali, sesuai yang dia ingat, bukanlah tujuh orang santri putri yang dia cabuli. Melainkan, hanya lima kali saja. Itupun, untuk dua korban putri yang ada diberkas pemeriksaan dirinya, hanya dicabuli saja tanpa memasukkan alat kemaluannya.
“Saya melakukan itu bukan tujuh kali mas. Namun hanya lima kali saja,” terang bapak dua orang anak itu.
Ditambahkan Rois, tiga kali perbuatannya pada santriwati yang ikut belajar ngaji di rumahnya, ia gerayangi dengan memasukkan jari tangan pada kemaluan tiga korbannya. Karena terangsang, Rois akhirnya coba memasukkan alat kemaluannya pada organ intim ketiga korban tersebut.
Sedangkan untuk dua korban lainnya, Rois hanya mengaku menggerayanginya saja. Sedangkan satu santri ngaji yang ditudingkan warga dan orangtua korban hamil akibat perbuatannya, hal itu dibantah oleh Rois. “Kalau korban yang hamil itu, saya tidak tahu mas. Saya cuma memasukkan jari saja. Saat ini, korban yang hamil itu sudah dinikahkan sama orang tuanya,” papar Rois.
Tertangkapnya Rois bermula dari laporan orang tua Nilam (bukan nama sebenarnya). Nilam adalah santri ngaji Rois pada tahun 2010 lalu. Saat ini, Nilam hamil tujuh bulan. Saat kejadian, usia Nilam masih di bawah 17 tahun. Tak terima perlakukan amoral Rois, orang tua Nilam akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polisi.
Dari sinilah semuanya terbongkar. Dengan sangat menyesal, Rois pun mengakui jika lima santri ngajinya, ia cabuli tanpa sepengetahuan istri dan anaknya yang ikut memberikan pelajaran mengaji.
Menanggapi pengakuan Rois yang hanya melakukan pencabulan lima kali dan bukan tujuh kali, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang, AKP Hartoyo SIK mengatakan, lima orang santri ngaji itu yang sudah diperiksa. Sedangkan dua korban lainnya, memang belum diminta keterangan dan diperiksa.
“Dari hasil pemeriksaan korban dan para saksi, ada tujuh santri putri yang menjadi korbannya. Sejauh ini, penyidikan dan pemeriksaan kasus ini memang belum tuntas seluruhnya. Bisa saja ada korban lainnya,” tegasnya. [beritajatim/lal]
Langganan:
Postingan (Atom)